Pengaruh Shift Kerja Perawat terhadap Kinerja yang Profesional


Oleh Farhani Dea Asy-Syifa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia 2018
Profesionalisme dalam Keperawatan

Berprofesi sebagai perawat tentu memiliki tantangannya sendiri. Pada praktik lapangan, perawat dituntut untuk bekerja selama 24 jam. Sehingga, perawat memerlukan pembagian shift dalam pekerjaannya. Tuntutan tersebut tentu berhubungan dengan tingkat stres seorang perawat, hal ini dikarenakan shift kerja perawat dapat mempengaruhi pola istirahat, gangguan fisik serta psikologis. Faktor lain yang mendukung adalah perawat mengalami konflik dengan teman sejawat, mendapatkan beban kerja yang tinggi, diskriminasi, dan menghadapi berbagai keluhan klien serta keluarga klien. Akibatnya, stres kerja perawat dapat dikaitkan dengan kinerja profesional yang ia berikan kepada klien. Semakin tinggi tingkat stres seorang perawat, maka performa kerja yang diberikannya akan semakin menurun.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.HK.02.02/MENKES/148/1/2010 mengenai izin dan penyelenggaraan praktik perawat, Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawat baik didalam maupun diluar negeri sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Perawat dituntut untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada klien dan masyarakat. Tuntutan akan tugas yang dimiliki seorang perawat semakin meningkat dan membuat perawat mengalami stres. Semakin baru dan diperluasnya peran seorang perawat, meningkatnya permintaan akan pengetahuan dan keterampilan yang baru dapat membawa pengaruh negatif terhadap kinerja perawat. Hal tersebut dapat menimbulkan rendahnya moral, ketidakpuasan, kinerja yang menurun, hingga pengunduran diri (Tzeng & Yin, dalam Sudhaker & Gomez, 2010). Sementara itu, perawat juga dihadapkan dengan tugas shift yang berbeda-beda.
Shift kerja perawat merupakan jangka waktu tertentu seorang atau sekelompok perawat dijadwalkan untuk bekerja di tempat kerjanya. Sistem shift ini memiliki efek yang positif dan negatif. Efek positif dari sistem shift perawat adalah meningkatkan pendapatan, memberikan lingkungan kerja yang sepi dan memberikan waktu libur yang lebih banyak. Namun, sistem shift perawat juga menimbulkan efek yang negatif. Efek negatif dari sistem shift perawat antara lain adalah rendahnya kuantitas dan kualitas istirahat atau tidur, mengalami masalah kehidupan keluarga dan sosial, keluhan pada sistem pencernaan dan sistem kardiovaskuler, serta masalah-masalah kesehatan mental (Hestya, 2012).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rusdi dan Bambang Edi yang berjudul Shift Kerja dan Beban Kerja yang Mempengaruhi terjadinya Kelelahan Kerja Perawat di Ruang Rawat di Rumah Sakit Pemerintah, shift yang memiliki pengaruh besar terhadap kelelahan kerja seorang perawat adalah shift pagi (07.00-14.00 WIB). Pada penelitian tersebut juga diungkapkan bahwa sebagian besar responden mengalami keluhan yang paling tinggi pada saat mereka selesai bekerja shift kerja pagi, terutama mulai pada hari ke dua dan ketiga. Hal ini juga sesuai dengan penelitian mengenai Hubungan Kerja Shift terhadap Kelelahan Perawat di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr.Sayidiman Magetan tahun 2012 oleh Inta Hestya, bahwa shift pagi merupakan shift kerja yang paling lelah karena padatnya pekerjaan yang harus dilakukan perawat pada shift kerja pagi, ditambah lagi pasien yang keluar dan masuk dari rumah sakit lebih banyak terjadi pada waktu pagi hari.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa sistem shift memiliki pengaruh terhadap kinerja profesional perawat dalam memberikan layanan keperawatan kepada klien. Meskipun pengaruhnya kecil, tetapi tetap ada perbedaan. Peluang mengalami kelelahan pada perawat yang bekerja secara shift adalah 1,125 kali daripada perawat yang tidak bekerja shift (Hestya, 2012). Kelelahan tersebut dapat menyebabkan kecelakaan kerja dan error yang dialami perawat, sehingga tindakan keperawatan yang dilakukan oleh seorang perawat kepada kliennya kurang profesional. Kelelahan pada saat bekerja memberikan kontribusi sebesar 50% terhadap terjadinya kecelakaan kerja (Kusmedi dkk, 2010). Selain itu, perawat yang kurang bisa menyesuaikan diri dengan ritme circadian juga memiliki potensi mengalami kesalahan atau kecelakaan kerja yang lebih besar.
Ritme circadian adalah salah satu bentuk ritme biologis yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Ritme circadian berhubungan dengan aktivitas individu yang merasa lebih aktif dan siaga pada siang hari, dan juga ada yang merasa lebih aktif dan siaga pada malam hari. Individu dengan tipe siang dan malam memiliki tingkat kesiagaan tertinggi yang berbeda. Tipe siang memiliki tingkat kesiagaan tertinggi pada jam 10 siang, sementara tingkat kesiagaan terendahnya pada jam 4 pagi. Tipe malam memiliki tingkat kesiagaan tertinggi pada jam 2 siang, sementara tingkat kesiagaan terendahnya pada jam 8 pagi. Perbedaan kesiagaan ini penting untuk diperhatikan, karena jika individu bekerja dalam keadaan kurang siaga, maka individu tersebut menjadi lebih mudah membuat kesalahan dan bahkan dapat menimbulkan kecelakaan kerja (Jurnal The Endocrine Society of Clinical, 2011).
Hal lain yang semakin membuat pelayanan keperawatan yang kurang profesional akibat dari sistem kerja shift adalah kurangnya jumlah tenaga perawat atau tidak seimbangnya jumlah perawat yang ada dengan pasien yang dirawat di rumah sakit. Seorang perawat yang bertugas di rumah sakit biasanya menangani lebih dari 5 pasien. Namun, idealnya seorang perawat hanya menangani 2 hingga 3 pasien saja. Terlebih, jumlah perawat yang ditugaskan disetiap shift berbeda-beda. Pada shift malam, biasanya perawat yang ditugaskan lebih sedikit dibandingkan shift pagi dan sore. Jumlah jam kerja pada shift malam juga lebih lama dibandingkan shift lainnya. Seharusnya pihak manajemen rumah sakit membertimbangkan pengaturan sistem kerja shift agar lebih berpacu pada standar shift kerja dan standar beban kerja bagi tenaga perawat. Menambahkan tenaga perawat yang profesional pada rumah sakit juga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan atau kecelakaan kerja.
Perawat juga harus memiliki sikap dalam menghadapi permasalahan ini. Disamping memberikan pemenuhan kebutuhan kepada klien, perawat diharapkan dapat mengatur diri agar bisa bekerja secara profesional dan proporsional sesuai shift yang telah diatur. Manfaatkan waktu istirahat dengan sebaik mungkin dan aturlah waktu istirahat tersebut untuk meminimalisir terjadinya kelelahan kerja. Disarankan juga kepada perawat shift malam agar mampu beradaptasi pada malam hari dengan memanfaatkan waktu senggang untuk beristirahat. Untuk mengurangi kelelahan, perawat dapat melakukan refreshing pada saat hari libur, atau bisa dengan berolahraga secara teratur dan relaksasi.

Referensi
Sudhaker, C., & Gomes, L.A. (2010). Job stress, coping strategies and the job quality index of nurses working in selected multispeciality hospitals–towards human resource development. Journal of the Academy of Hospital Administration, Vol. 22, No. 1-2, 10-12.
Hestya, I. (2012). Hubungan Kerja Shift Terhadap Kelelahan Perawat Di Instalasi Rawat Inap Rsud Dr. Sayidiman Magetan Tahun 2012. Magetan: Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya.
Kusmedi, Kuntjoro, T., & Djasri, H. (2010). Patient Safety Puskesmas. Yogyakarta: PMPK FK-UGM
Jurnal The Endocrine Society of Clinical. (2011). Endocrinology & Metabolism (JCEM).

Comments